Senin, 08 Februari 2016


GUIDED MISSILE FRIGATE PT. PAL INDONESIA

Jakarta -Hari ini, PT PAL Indonesia (Persero) memperkenalkan 2 jenis kapal perang yakni Strategic Sealift Vessel (SSV) pesanan militer Filipina dan kapal Guided Missile Frigate/Perusak Kawal Rudal (PKR) pesanan TNI AL.

Untuk PKR, kapal ini merupakan varian kapal perang canggih yang khusus difungsikan untuk pertempuran, berbeda dengan SSV yang hanya untuk supporting perang dan non perang. PKR juga dikenal sebagai kapal perang tercanggih dikelasnya karena dilengkapi rudal dan torpedo.

"Hari ini, kita juga launching kapal Perusak Kawal Rudal (PKR). PKR ini adalah kapal light frigate pertama yang dibangun di Indonesia," kata Direktur Utama PAL, Firmansyah Arifin, kepada detikFinance, Senin (18/1/2016).

PAL sendiri menggandeng produsen kapal perang asal Belanda, Damen. Damen dan PAL bekerjasama mengembangkan dan memproduksi 2 unit kapal jenis light frigate pesanan TNI AL ini.

Untuk merakit dan memproduksi kapal PKR, terdapat 7 modul atau bagian kapal yang harus disatukan.

Untuk PKR ke-1, sebanyak 5 modul dibuat di PAL dan 2 modul dibuat di Damen. Sedangkan PKR ke-2, sebanyak 6 modul akan dibuat di PAL dan 1 modul dibuat di Damen. Selanjutnya, modul itu disatukan menjadi kapal perang utuh pada galangan kapal milik PAL di Surabaya.

"Kapal ke-3 dan seterusnya semua modul sudah bisa dibuat di Indonesia," sebutnya.

Karena PKR merupakan kapal canggih dan kelas frigate pertama diproduksi di Indonesia, PAL memperoleh proses transfer of technology dari Damen.

Badan Usaha Milik negara (BUMN) bidang perkapalan ini juga telah mengirimkan 70 insinyur ke Damen, Belanda untuk terlibat dalam proses pembelajaran pengembangan PKR secara mandiri.

"Mereka (Damen) ke Indonesia untuk mendukung alih teknologi karena kapal langsung dibangun di Indonesia. Proses pembangunan ada kerja sama alih teknologi dengan supervisor dari mereka. Di sisi lain, ada 70 orang PAL yang berangkat ke Damen untuk belajar di sana," sebutnya.



Pada peluncuran kali ini, pembangunan PKR ke-1 telah tuntas 85%. Proses selanjutnya adalah finishing hingga pengujian. Firmansyah mengaku, proses pengembangan dan perakitan light figate ini relatif lebih rumit dan sulit daripada kapal SSV.

Alhasil, PAL dan Damen membutuhkan waktu 4 tahun untuk melahirkan 1 unit PKR.

"Light frigate pembangunannya butuh 4 tahun. Dia kemampuan tempurnya beda sama SSV. SSV bukan kapal tempur tapi supporting tempur sehingga bisa (pembangunan) 2 tahun," ujarnya.

sumber detik.com

Rabu, 20 Januari 2016

Pindad Mulai Produksi Panser Badak Awal 2016

Pindad Mulai Produksi Panser Badak Awal 2016

Jakarta -Panser varian terbaru buatan PT Pindad (Persero), Badak, saat ini sedang tahap sertifikasi dari Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat. Bila lolos sertifikasi, Panser Badak akan mulai diproduksi massal pada triwulan I-2016.

"Mulai 2016 akan diproduksi massal," kata Kepala Humas Pindad, Herdantono kepada detikFinance, Selasa (15/12/2015).

Dari data Pindad, Panser Badak yang memiliki senjata berat jenis canon 90 mm ini akan diproduksi sebanyak 25 unit sampai 30 unit per tahun. Mulai dari proses pengembangan hingga produksi dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

"Konten lokalnya tinggi kayak Panser Anoa," tambahnya.

Tahap awal, Panser Badak akan diproduksi dan dijual untuk memenuhi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI.

"Pesan dirut untuk penuhi kemandirian Alutsista. Kalau ke depannya, nanti ada peluang ekspor," jelasnya.

Untuk harga, Hardantono belum bisa menyebutkan karena Panser Badak masih dalam tahap sertifikasi.

"Harga perlu konfirmasi karena panser masih proses sertifikasi," sebutnya.

sumber:
 http://finance.detik.com

Senin, 29 Juni 2015

Excava 200. Excavator buatan PT Pindad


Perusahaan pembuat ekskavator dan alat berat, seperti Caterpillar, Komatsu, Kobelco, Hitachi, dan Doosan, harus siap-siap berbagi lebih banyak ‘kue’ dari pangsa pasar alat berat di Indonesia. Sebab, dalam waktu dekat PT Pindad (Persero) juga akan meluncurkan Excava 200 yang dibanderol dengan kisaran harga 90.000 – 110.000 dollar AS per unit. Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim menjelaskan, perusahaan alutsista tersebut kian mengembangkan bisnis non-pertahanan dan keamanan.

Pemerintah meminta perseroan pelat merah itu untuk meningkatkan porsi bisnis non-alutsista menjadi 25 persen. Setelah melihat peluang pasar dan kebutuhan untuk pembangunan infrastruktur, Pindad memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk, salah satunya dengan membuat ekskavator. Namun, Silmy memastikan pula bahwa pilihan ini bukan tanpa dasar kompetensi dari Pindad. “Kompetensi kita di hidrolik. Kita bisa bikin crane. Kita sudah bisa membuat Anoa, tank, kurang lebih sama. Kemudian roda rantai, juga sama, malah lebih gampang. Saya tanya (ke karyawan), gampangan mana bikin tank sama ekskavator? (Mereka bilang) Gampang ekskavator. (Saya bilang) Ya sudah bikin,” cerita Silmy.
Pindad diminta memproduksi 100 unit ekskavator dalam satu tahun. Tak sabar, Basuki pun ingin melihat prototipe ekskavator tersebut pada Juni 2015. “Ini Menteri PU dan Pera yang minta. Kita sudah kerja siang-malam untuk bisa menghasilkan ekskavator tersebut. Akhirnya, selesai 10 Juni kemarin. Kemudian, uji sertifikasi pada September-Oktober, dan 2016 langsung produksi,” ucap Silmy. Silmy menerangkan, pasar alat berat di Indonesia masih sangat didominasi pemain luar.


Padahal, potensinya pada tahun 2012 saja mencapai 7927 unit. Silmy berharap, Exvaca 200 bisa mencaplok 10 persen dari ‘kue’ di pangsa pasar tersebut, atau sekitar 790 unit selama lima tahun ke depan. Dalam kesempatan yang juga dihadiri sejumlah direksi BUMN Karya itu, Silmy berharap, BUMN bisa mengambil 50 persen dari 790 unit itu. Demikian pula dengan Kementerian PU-Pera yang diharapkan bisa memesan minimal 300 unit. Excava 200 didominasi warna merah dan putih yang melambangkan bendera Indonesia. “Ekskavator ini akan diluncurkan 17 Agustus, dan menjadi hadiah bagi Indonesia, bahwa kita ikut membangun pembangunan bangsa Indonesia ke depan, membangun infrastruktur,” ujar Silmy.
Sukses, Pindad !
sumber :
http://www.goodnewsfromindonesia.org

Selasa, 16 Juni 2015


Jakarta – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) siap membangun empat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Beberapa lokasi yang dianggap potensial untuk mengembangkan energi ini yaitu Bangka, Sumatera, Kalimantan Barat, Batam dan Jepara.
Hal ini sesuai dengan isi Buku Putih yang ditandatangani oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, belum lama ini.
Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, dalam Buku Putih ditargetkan, Indonesia akan memiliki PLTN berdaya 5.000 megawatt (MW) di tahun 2025. “Dengan kapasitas itu, kita bagi menjadi empat PLTN di daerah yang berpotensi,” terangnya, di Restoran Raden Bahari, Jakarta, Selasa (16/6/2015).
Buku Putih yang menguraikan maksud dan tujuan pembangunan pusat nuklir, tidak secara spesifik membahas lokasi pembangunan PLTN. Namun, secara riil, Batan sudah melakukan studi kelayakan di Bangka yang akan menjadi prioritas utama.
Sementara itu, Kalimantan Barat, Batam dan Jepara juga memiliki potensi bagus untuk membangun PLTN. “Meskipun lokasinya bisa berubah. Jadi itulah esensi buku putih. Itu, dimana juga menggambarkan kebutuhan listrik di tahun 2025,” jelasnya.
Namun, semua keputusan tergantung presiden Joko Widodo. Ia juga tak menampik bahwa, pembangunan PLTN adalah pilihan terakhir pemerintah. “Tetapi keputusan ada di Presiden RI, harus ada kata go dulu dari Presiden, baru kita lakukan proses selanjutnya seperti melakukan lelang,” kata Djarot.
Padahal, kata Djarot, saat ini sudah banyak investor dari berbagai negara yang tertarik bangun PLTN di Indonesia. Sakag satunya Rusia, Tiongkok dan Perancis yang memperhitungkan potensi PLTN di Indonesia.
Dari negara yang berkomitmen membantu Indonesia, Djarot menyebut Rusia yang paling bersemangat. Bahkan BATAN dan Rusia telah menandatangani kerjasama, meskipun tidak mengikat, kerjasamanya untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Rusia sangat ingin masuk ke Indonesia. Kita sudah MoU (nota kesepahaman) dengan Rusia. Bukan mengikat tapi jaminan kerjasama untuk litbang dan bangun SDM,” ujarnya.
Sesuai dengan Peraturan Presiden No 79/2014. Djarot menambahkan, bahwa Indonesia menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 23 persen sampai tahun 2025. Djarot mengklaim, tanpa EBT Tenaga Nuklir. Maka bauran EBT 23 persen tidak akan tercapai.
sumber:
KOMPAS.com 
http://jakartagreater.com

Jumat, 29 Mei 2015

Indonesia Beli 16 Su-35

Keinginan TNI Angkatan Udara untuk membeli Su-35 Flanker E guna menggantikan F-5 Tiger mendapat jalan setelah direstui DPR. Pemerintah akhirnya memutuskan membeli satu skuadron pesawat tempur generas 5 buatan Rusia ini.
Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya membenarkan pesawat tempur Su-35 sudah masuk dalam rencana pembelian. Jumlah pesawat yang dibeli sebanyak 16 unit pesawat atau satu skuadron berikut persenjataannya.
“Iya benar, itu memang sudah masuk dalam rencana strategi (renstra) pembelian dan sudah sesuai dengan kebutuhan kita,” ujar Tantowi, Jumat 13 Maret 2015 sebagaimana dikutip Sindo News.
Saat disinggung anggaran yang dihabiskan untuk membeli pesawat tersebut, politikus Partai Golkar itu mengaku tidak mengetahui secara rinci.  Menurut Tantowi, pesawat tersebut akan tiba ke Indonesia secara bertahap. “Anggarannya beda dengan pembelian sebelumnya, tapi saya lupa berapa, tapi apa yang disampaikan Panglima TNI itu benar,” tegasnya.
Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengakui rencana pembelian Su-35. keputusan pembelian pesawat tempur tersebut melalui proses yang panjang “Itu sudah menjadi pilihan bersama antara TNI dengan Kemhan dan sudah menjadi kesepakatan,” ujar Moeldoko usai mengikuti kegiatan TNI Mendengar dengan tema Ketahanan di Bidang Energi dengan Berbagai Permasalahan dan Solusinya di Aula Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.
Su-35 merupakan salah satu pesawat paling ditakuti saat ini.  Pesawat yang merupakan hasil evolusi akhir dari Su-27 Flanker. F-22 Raptor, pesawat siluman Amerika disebut-sebut sebagai satu-satunya pesawat yang mampu mengimbangi Su-35. Meski masih dalam garis generasi ke-4++ yang belum memiliki karakter siluman, namun teknologi yang ditanamkan hampir seluruhnya adalah manivestasi dari generasi kelima.
Sebagai jet tempur superioritas udara, keuntungan utama adalah kombinasi kemampuan ketinggian dan kecepatan yang tinggi memungkinkan jet tempur akan memiliki kekuatan maksimum untuk menyerang terutama dengan menggunakan rudal udara ke udara jarak jauh.
Su-35 mampu meluncurkan senjata pada kecepatan supersonik tinggi sekitar Mach 1,5 pada ketinggian lebih dari 45.000 kaki. Data ini mengalahkan F-35 yang  akan banyak beroperasi di kisaran 30.000 kaki pada kecepatan sekitar Mach 0,9.
Su-35 Flanker dibangun dengan badan pesawat yang kuat, yang terbukti telah melebihi kinerja aerodinamis dari Boeing F-15 Eagle. Tetapi Su-35 justru lebih ringan, memiliki daya dorong vectoring tiga dimensi, avionik canggih dan kemampuan jamming yang kuat

sumber: http://www.jejaktapak.com
http://alutsista-indonesia.blogspot.com

Kamis, 21 Mei 2015

TNI Menang Lomba Menembak di Australia 2015

 TNI Menang Mutlak Lomba Menembak di Australia
 
Tim TNI yang berpartisipasi dalam kejuaraan menembak di Australia.
  Di tengah peringatan Hari Kebangkitan Nasional  Indonesia yang ke-107 tahun 2015, sejumlah prajurit TNI hampir dipastikan meraih kemenangan mutlak dalam Lomba Menembak Tahunan di Australia. Tim TNI telah mengumpulkan 28 medali emas, sementara tim Amerika bahkan belum meraih medali apapun.
Kejuaraan tahunan yang diselenggarakan Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) ini berlangsung pada 20-23 Mei 2015 di Puckapunyal, negara bagian Victoria. Ada 17 tim dari 14 negara berlaga dalam kejuaraan yang mempertandingkan keterampilan menembak ini.
Selain 28 medali emas, tim TNI juga merebut 16 medali perak dan 10 medali perunggu, mengalahkan tuan rumah Australia di posisi kedua dengan empat medali emas, tujuh medali perak, dan lima medali perunggu.
Ketangguhan penembak-penembak TNI bahkan tidak dapat disaingi oleh tim penembak asal Inggris yang baru meraih tiga medali emas, lima medali perak, dan tiga medali perunggu, apalagi tim penembak Amerika Serikat yang belum meraih medali apapun. Diperkirakan perolehan medali akan tim penembak TNI terus bertambah hingga pertandingan berakhir pada 23 Mei 2015.
Dalam rilis yang dikirim oleh KBRI dan diterima oleh ABC Australia Plus Indonesia, Duta Besar Nadjib Riphat Kesoema memuji prestasi yang diraih regu tembak Indonesia. “Prestasi yang membanggakan ini menunjukkan betapa tangguhnya anggota TNI dan persenjataan buatan Indonesia di medan laga,” ujar Dubes Nadjib.
Atase Militer KBRI Canberra, Taufan Gestoro, yang mendampingi tim Indonesia selama perlombaan menambahkan, “Di bawah tekanan dan kompetisi internasional yang ketat, para peserta dari TNI bertanding dengan semangat luar biasa dan menyelesaikan tiap kompetisi dengan profesionalisme dan skill yang tinggi.”
Total 21 orang penembak dari Indonesia terdiri dari pejabat dan petembak profesional dari lingkungan TNI AD serta teknisi dari PT Pindad.
Selama perlombaan, tim Indonesia menggunakan empat jenis senjata, yaitu senapan buatan dalam negeri SS-2 V-4 Heavy Barrel dan pistol G-2 (Elite & Combat) dari PT Pindad, senapan SO-Minimi buatan Belgia, senapan GPMG (General Purpose Machine Gun) buatan Belgia, dan senjata sniper AW buatan Inggris.
Selain perlombaan kategori beregu, juga diadakan perlombaan kategori perorangan. Untuk kategori perorangan, diraih oleh 1. Letda Inf Safrin Sihombing (Kopassus), 2. Serda Misran (Kostrad), 3. Serda Suwandi (Kostrad) dan 4. Serda Woli Hamsan (Kostrad).

sumber: http://www.republika.co.id

Senin, 18 Mei 2015

Bandung – Pindad menargetkan dapat memamerkan panser amfibi yang mereka kembangkan, pada HUT TNI, Oktober mendatang. Pengembangkan panser amfibi itu sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.
Dirut Pindad Silmy Karim mengungkapkan hal itu ketika menerima kunjungan Danpussenif Mayjen TNI Hinsa Siburian di Bandung, Kamis (5/3). ”Diharapkan, sertifikasi panser selesai Juni mendatang. Jadi pada HUT TNI nanti sudah bisa ambil bagian dalam parade,” jelasnya.
Menurut dia, pihaknya terus menyempurnakan varian terbaru pansernya, terutama kemampuan amfibi, pertimbangan kebutuhan, doktrin, kecepatan, keselamatan, dan pengoperasian. Panser tetap berfungsi sebagai angkut personel. Hanya saja, panser bisa menembus rawa, sungai, dan danau sehingga memudahkan pergerakan pasukan.
Manuver
Dalam atraksi yang diperlihatkan kemarin, dalam posisi mengambang, purwarupa panser amfibi itu lincah bergerak ke sana-mari. Panser sanggup maju dan mundur dan berkelok tajam. Panser memiliki water propeller sebagai penggerak di air.
Hinsa mengapresiasi produk Pindad tersebut. Secara implisit, perwira tinggi bintang dua tersebut bahkan menyatakan tertarik dengan performa panser amfibi.
”Khusus infanteri, yang ditonjolkan adalah manuver dan tembakan. Infanteri dasarnya jalan kaki. Selama ini, paser Anoa hanya di darat. Dengan panser amfibi, daya gerak dan manuvernya luar biasa,” tandasnya. (suaramerdeka.com)
Sumber:
http://jakartagreater.com/
https://indonesiacompanynews.wordpress.com /

http://tofastblog.blogspot.com/